Model Ekonomi Hijau Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)

Oleh Achmad Deni Daruri, Founder BGK Foundation
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) telah mengambil langkah-langkah konkret dalam menerapkan Model Ekonomi Hijau, yang mencakup berbagai inisiatif strategis untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu langkah utama adalah pengembangan energi terbarukan, di mana APEC mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ini termasuk investasi dalam teknologi seperti energi surya, angin, dan hidroelektrik. Pengelolaan limbah dan daur ulang juga menjadi fokus, dengan program-program yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan dan mendorong praktik 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Transportasi berkelanjutan merupakan komponen lain dari strategi ini, dengan upaya untuk meningkatkan infrastruktur transportasi yang efisien dan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penggunaan kendaraan ramah lingkungan dan pengembangan jaringan transportasi umum. Dalam sektor pertanian, APEC mengadvokasi untuk pertanian dan pangan berkelanjutan, menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk organik dan pengendalian hama terpadu, yang tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Selain itu, APEC telah berkomitmen untuk memperkuat kerjasama antar negara anggota dalam mencapai tujuan-tujuan ekonomi hijau ini, dengan fokus pada inovasi dan kolaborasi antara pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan transformasi kolektif dari keseluruhan value chain.
Pada pertemuan BCG Economy, para menteri APEC bersepakat untuk mencari prakarsa praktis, ambisius, dan konkret untuk transisi ke ekonomi global masa depan yang tahan iklim. Indonesia, sebagai anggota APEC, telah menyampaikan percepatan transformasi ekonomi menuju ekonomi hijau, dengan menekankan pada mekanisme pendanaan inovatif, inovasi produk, dan standarisasi produk ramah lingkungan. Implementasi ekonomi hijau melalui pembangunan rendah karbon juga menjadi strategi penting, dengan kebijakan net zero emissions untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan stimulus hijau untuk pemulihan ekonomi. APEC mengakui bahwa krisis global seperti perubahan iklim hanya dapat diatasi melalui kerjasama internasional yang kuat dan tujuan bersama, menempatkan kawasan Asia-Pasifik pada jalur kemakmuran dan keberlanjutan yang lebih baik.
Model Ekonomi Hijau yang dianut oleh Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) merupakan strategi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di kawasan Asia-Pasifik. Model ini, yang juga dikenal sebagai Bio-Circular-Green (BCG) Economy Model, mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, bioekonomi, dan keberlanjutan lingkungan untuk menciptakan sistem ekonomi yang efisien, tangguh, dan ramah lingkungan. Dalam konteks APEC, model ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama antar negara anggota dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya kuat dan seimbang, tetapi juga aman dan inklusif, dengan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Pada tahun 2022, Thailand, sebagai tuan rumah APEC, memprioritaskan inisiatif ekonomi hijau ini dengan tema "Open, Connect, and Balance", yang mencerminkan komitmen mereka terhadap pemulihan pasca-pandemi yang inklusif dan berkelanjutan.
Inisiatif ini menekankan pentingnya penerapan ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi dalam penggunaan sumber daya yang efisien, pemeliharaan dan pemulihan ekosistem, serta pengurangan limbah untuk membangun sistem di mana pemerintah dan bisnis dapat berkembang sambil berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi tantangan lingkungan, termasuk perubahan iklim. APEC juga mengakui bahwa krisis global seperti perubahan iklim hanya dapat diatasi melalui kerjasama antar pemerintahan yang menuju tujuan bersama. Sejak didirikan pada tahun 1989, kawasan APEC telah mengalami 36 persen dari bencana alam di dunia, dengan kerugian terkait bencana di APEC, kebanyakan terkait cuaca, mencapai lebih dari 111 miliar USD setiap tahunnya.
Oleh karena itu, APEC menetapkan tujuan Bangkok untuk ekonomi Asia-Pasifik yang bio-sirkular-hijau, yang akan menempatkan kawasan ini pada jalur kemakmuran dan keberlanjutan. Selain itu, APEC terdiri dari 21 anggota yang berkomitmen untuk menciptakan kemakmuran bagi masyarakat di kawasan dengan cara mempromosikan pertumbuhan yang seimbang, inklusif, berkelanjutan, inovatif, serta aman dengan mempercepat integrasi ekonomi kawasan. Kebijakan ekonomi APEC harus merangkul semua anggota untuk memastikan bahwa setiap negara, terlepas dari tingkat pembangunan ekonominya, dapat berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang hijau ini. Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) mengukur keberhasilan implementasi Model Ekonomi Hijau melalui serangkaian indikator dan mekanisme pemantauan yang komprehensif. Indikator-indikator ini mencakup penurunan emisi gas rumah kaca, peningkatan efisiensi energi, pertumbuhan investasi dalam teknologi bersih, dan pengembangan infrastruktur hijau. APEC juga memantau kemajuan dalam penerapan praktik-praktik ekonomi sirkular, seperti pengurangan limbah dan peningkatan daur ulang, serta peningkatan kapasitas dan transfer teknologi antar negara anggota.
Pengukuran keberhasilan juga dilakukan melalui evaluasi kebijakan dan program yang telah diimplementasikan, termasuk dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial. APEC menilai efektivitas kerangka kerja kerjasama internasional dan regional dalam mendukung transisi ke ekonomi hijau, serta sejauh mana negara-negara anggota dapat mengadopsi dan menyesuaikan model ini sesuai dengan kondisi nasional mereka. Selain itu, APEC menggunakan data dan analisis dari berbagai sumber, termasuk laporan dari lembaga internasional dan regional, untuk memantau kemajuan dan tantangan dalam implementasi Model Ekonomi Hijau. Ini termasuk penilaian terhadap inisiatif dan proyek yang sedang berlangsung, serta studi kasus yang menunjukkan praktik terbaik dan pelajaran yang dipetik. Pendekatan lain yang digunakan APEC adalah melalui dialog dan pertukaran pengetahuan antara negara-negara anggota, yang memungkinkan pembelajaran bersama dan penyesuaian strategi yang diperlukan.
Forum-forum seperti pertemuan tingkat menteri dan kelompok kerja teknis memberikan platform bagi anggota untuk berbagi pengalaman dan mengidentifikasi peluang untuk kolaborasi lebih lanjut. Dalam konteks Indonesia, sebagai anggota APEC, negara ini telah mengambil langkah-langkah signifikan dalam menerapkan Model Ekonomi Hijau, termasuk pengembangan kebijakan dan program yang mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon. Indonesia juga berkontribusi pada diskusi regional dan global mengenai ekonomi hijau, dengan menekankan pada pentingnya mekanisme pembiayaan inovatif dan kerjasama internasional dalam mencapai target-target pembangunan berkelanjutan. Secara keseluruhan, APEC berupaya untuk menciptakan kerangka kerja yang kuat untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan Model Ekonomi Hijau, dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan dan komitmen iklim global.
Keberhasilan implementasi ini diukur tidak hanya dari perspektif lingkungan, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas, mencerminkan pendekatan holistik yang diambil oleh APEC dalam mendorong ekonomi hijau di kawasan Asia-Pasifik. Eksplorasi mitigasi risiko perubahan iklim berbasis renewable energy di APEC merupakan langkah penting dalam agenda APEC untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Transisi ke energi terbarukan adalah salah satu strategi utama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi pemanasan global. Indonesia, sebagai anggota APEC, memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama mengingat kekayaan sumber daya alamnya yang dapat dimanfaatkan untuk produksi energi bersih, seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi.
ImageSource: https://id.pinterest.com/pin/668714244706637657/


